Ini (bukan) kebetulan

 Pernahkah anda merasa marah ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan anda? Pernahkah anda merasa panik ketika sesuatu terjadi di luar perkiraan anda? Pernahkah anda menyesal, karena hidup tidak sesuai dengan yang anda rencanakan? Kalau jawabnya “iya”, baguslah. Anda termasuk orang yang manageable dan perfeksionis, segala sesuatu harus di bawah kendali anda.  Dengan begitu anda bisa mengatur semuanya dan mengharapkan hasilnya linier sesuai dengan rumus yang telah anda perkirakan di benak anda. Kalau jawabannya “tidak”, anda tidak perlu berkecil diri. Anda adalah orang-orang yang flexible dan adventurer, let all happens naturally. Dengan begini anda mampu menyesuaikan dengan berbagai keadaan, sesulit apapun keadaanya, dan berharap hasilnya penuh kejutan. Surprise!!! Hehehe. Ah, ini kategorisasi asal-asalan saja ala otak-atik gathuk. Just dont take it hard.

 Seringkali sesuatu terjadi di luar bayangan kita. Mulai dari kesiangan bangun, ketinggalan kereta, ketinggalan dompet di rumah, kena semprot bos gara-gara kerjaan ga beres, bahkan terkadang sampai ketiduran di bus dan kebablasan. Hehehe. Kalau ini sih sial pangkat tujuh. Seringkali pula sesuatu terjadi di luar rencana kita. Rencana mau liburan tetapi harus nganter ortu, rencana mau tidur malah disuruh ngepel, atau rencana mau naik sepeda tetapi bannya malah bocor. Ehh..kompleks lah. Apalagi ketika kita harus bekerjasama  dengan orang lain dalam aktivitas kita. Makin banyaklah kejadian-kejadian yang di luar perkiraan dan di luar rencana kita.

          Tetapi inilah hidup. Inilah seni kehidupan. Kita bukan sedang bermain game yang telah kita hafal jalurnya. Kita tidak sedang bermain monopoli yang bisa kita pelajari taktik dan strateginya. Kita sedang bermain sesuatu yang besar. Bermain dengan kehidupan. Kehidupan kok untuk bermain? Pertanyaan yang cukup menggelitik. Mengingatkan akan suatu ayat bahwa kehidupan itu seperti permainan dan sendau gurau belaka, bagi yang hanya tahu sebatas kehidupan dunia. Tapi kehidupan jauh lebih luas daripada itu. Bermain boleh, asal menang melawan hidup. Hidup sukses dunia akhirat, maksudnya. Hehehe.
            Sekedar cerita saja, sambil mengusir kebosanan di dalam kereta. Awalnya aku berencana pulang ke jogjakarta naik pesawat : cepat, mudah dan tiketpun terjangkau mengingat hari kamis tidak banyak yang berpergian dibandingkan akhir pekan. Segalanya sudah siap. Harapannya sampai di jogjakarta nanntinya masih banyak sesuatu yang bisa dikerjakan. Tetapi karena dalam perjalanan ini aku tidak sendiri, akhirnya aku putuskan untuk pulang bersama-sama ikut teman naik kereta api.Tak apalah.... kita flexible aja.
Aku sendiri sebenarnya termasuk orang yang manageable. Segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan rencanaku. Tetapi dalam perjalanan kali ini aku belajar banyak makna. Being flexible bukan berarti being fail, tidak sesuai rencana bukan berarti gagal. Namun sebenarnya Tuhan memberikan skenario yang lebih menarik untuk kita. Ada banyak hal yang tidak terencana, namun hadir apa adanya.
       Dengan perjalanan naik kereta ini aku dapat merasakan bagaimana hidup di ibukota : tiap pagi berjejalan naik kereta, tidur saat berangkat kerja sembari menunggu tiba, gaya dan penampilan ala kota. Selain itu, bertemu orang dengan yang tidak kenal sebelumnya. Mencoba bertegur sapa, dan ternyata memang banyak peluang terbuka untuk membantu kesibukan kita. Benar-benar banyak pengalaman berharga. Dan aku yakin ini bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah ndillallah, kehendak yang Kuasa. Tugas kita hanyalah menjalani hidup, bukan merancang skenario hidup. Skenario terbaik adalah milik sang Pencipta.

Aku jadi teringat puisi dari manuel bandiera, di buku seperti sungai yang mengalirnya paulo coelho :

Jadilah seperti sungai yang mengalir,
Hening dikala malam.
Usah takut pada kegelapan.
Pantulkanlah bintang-bintang.
Jelmakan pula awan-awan.
Sebab awan itulah air, tiada beda dengan sungai.
Maka pantulkan pula dengan sukacita, di kedalamanmu sendiri yang tenteram

Manuel Bandeira
Selamat merayakan hidup, kawan!!!

                                                              Di atas kereta, 27 September 2012
                                                                         Fajar Sodiq Irawan

No comments: