Mengapa (harus) menulis?

 “Lebih baik kalah berperang untuk mewujudkan mimpi diri daripada memenangkan pertempuran tapi tak tahu untuk siapa” –aku lupa di buku siapa aku pernah baca..:D 

   Mengapa, seringkali menjadi kata sakti untuk “menghabisi” argumentasi seseorang. Tak jarang orang kelabakan dan tak tahu harus mengatakan apa ketika ditanya “mengapa?”. Mereka tak tahu haru memilih kata apa untuk merangkai jawabannya. Bahkan, terlalu banyak orang yang melakukan sesuatu yang bahkan tidak tahu alasan di balik suatu tindakan harus dilakukan. Thats why they always have problem with the word “why?”. 
    Mengapa kutuliskan ceritaku di blog ini? Pertanyaan inilah yang pertama kali harus kujawab ketika aku memutuskan untuk mengaktifkan kembali blog ini. Bukankah terlalu memalukan untuk menceritakan diri sendiri pada khalayak? Bukankah menceritakan diri sendiri termasuk kesombongan? Bukankah menceritakan diri sendiri berarti menunjukkan kelemahan diri kepada banyak orang? Sederet pertanyaan ini memenuhi kepalaku.  
     Bismillah, sudah kuputuskan untuk menuliskan dan mempublikasikan cerita pribadiku karena aku ingin berbagi. Berbagi itu melegakan. Berbagi membuatku dapat menumpahkan segala rasa dan emosi yang terpendam di dada, meski aku tahu mungkin tak seorangpun akan mempedulikannya. Berbagi membuatku dapat merasa menyumbangkan sesuatu pada dunia, meski aku tahu mungkin tak seorangpun membutuhkannya. Berbagi membuatku dapat mengungkapkan gagasan dan ide, meskipun aku tahu mungkin tak seorangpun mau membacanya.  
     Berbagi menjadi my magical word, namun juga menjadi kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak semua orang mau dan mampu melakukan. It’s privacy. Memalukan menceritakan diri sendiri. Sombong sekali kamu cerita-cerita tentang dirimu. Ah, ngapain menceritakan diri sendiri? kurang kerjaan!! dan serangkaian alasan lainnya bolehlah menjadi landasan keputusan. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk diriku. Berbagi berarti mencoba memberikan manfaat, apapun bentuknya, baik ide maupun materi. Berbagi tidak akan mengurangi, justru di luar logika malah berbalik menambah apa yang kita miliki. Trust it!! Inilah jawaban atas “mengapa” kutulis ceritaku, yaitu BERBAGI. 
     This story belong to me and yours belong to you. Each has his own, and each is special. Just tell people whats your story and people will know who you are. Who unknown would unloved.  

                                                                       Bogor, 26 September 2012         
                                                                              Fajar Sodiq Irawan

No comments: