Yang perlu kita lakukan adalah melakukan

Malam ini aku mulai menulis lagi setelah beberapa hari off. Awalnya aku tidak tahu harus menuliskan apa. Banyak yang ada di pikiran. Banyak kenangan yang layak untuk dikenang. Banyak kejadian yang bisa ditarik hikmahnya. Namun si mood dan si inspirasi juga tak kunjung juga datang. Terus saja kuletakkan tangan di atas keyboard, asal memencet tombol mengikuti apa yang ada di kepala dan Alhamdulillah paling tidak sampai di kata ini, tulisan ini sudah berwujud.
Terkadang aku merasa sebelum menulis harus memiliki ide yang cemerlang terlebih dahulu. Memiliki kerangka tulisan yang bagus terlebih dahulu. Memastikan menulis sesuatu yang benar-benar baru terlebih dahulu. Menginginkan tulisan yang bagus- fantastis- bombastis yang bisa menginspirasi pembaca. Menginginkan tulisan keren yang bisa dibanggakan dan sederet idealisme lain akan kesempurnaan tulisan. Namun justru persepsi awal seperti inilah yang menghambat dan akhirnya tidak jadi menulis. Hasilnya? Enol besar!!! Tidak ada tulisan. Yang ada hanyalah angan dan khayal di pikiran.
Untuk menulis yang diperlukan adalah tulisan. Tulisan itu ada karena kita yang menulis. Memang malu dengan tulisan kita yang masih berantakan, namun lebih memalukan apabila tidak ada tulisan sama sekali.
Aku teringat dengan perkataan seorang dosen metodologi pada salah satu sesi perkuliahan : “tesis yang baik bukanlah tesis dengan tema yang bombastis dan mengguncang dunia akademis, namun tesis yang baik adalah tesis yang selesai. Untuk bisa selesai harus diselesaikan”. Sungguh menohok. Pas banget terhadap karya apapun yang harus kita kerjakan, entah itu artikel, skripsi, laporan, tesis, jurnal dan tulisan-tulisan lain, termasuk tulisan pribadi. Percuma saja kalau idenya bagus luar biasa tapi tidak terselesaikan, tidak ada hasilnya. Lebih baik sederhana tapi ada hasil nyatanya daripada ide luar biasa tapi sebatas angan belaka.
Belajar menulis sepertinya juga pas apabila dianalogikan dengan belajar berenang. Untuk bisa berenang yang dibutuhkan adalah terjun ke kolam dan praktek serta latihan dengan gerakan renang yang benar, bukan sekedar teori di papan tulis, namun tak pernah basah terjun ke kolam. Percuma saja hafal gaya dan teknik renang tetapi tak pernah turun ke kolam. Bisa dipastikan orang itu hanya bisa satu gaya : gaya dada, begitu nyebur kolam langsung dadaaaa... tanda pamit yang tak janji bisa muncul ke permukaan kembali.
So, yang dibutuhkan untuk menulis (dan juga melakukan semua aktivitas) menurutku adalah melakukannya, bukan hanya memikirkannya. Lebih menjengkelkan lagi kalo NATO, no action talk only, alias omdo, omong doang. Nyebelin banget bukan, kalau ketemu orang kayak gitu?
 Ayuk, segera lakukan apapun yang kita rencanakan. Kalaupun rencananya belum matang benar, insyaAllah dengan melakukannya akan banyak jalan untuk mematangkannya. Bahkan mungkin malah bisa melebihi dari ekspektasi kita. Ibarat memasak, kalau ingin makan beras, yang kita lakukan harus langsung beraksi menanak beras. Kita tak akan bisa mendapat nasi jika hanya memikirkan menanak beras. Kita hanya akan kenyang makan nasi bila kita langsung beraksi menanak beras terlebih dahulu. kalaupun ternyata ternyata nasinya berubah menjadi bubur, malah tambah saja suwiran ayam, bawang goreng, toping lainnya dan kuah sehingga jadi bubur ayam yang lebih lezat daripada sekadar nasi putih. Kalaupun nantinya di tengah jalan dalam usaha kita ternyata tidak berjalan sesuai keinginan kita, anggap saja itu surprise dan siapa tahu dengan sudut pandang berbeda malah menjadi lebih dari yang kita harapkan. By doing something there’s a possibility of being failed, but if doing nothing there must be  failed. Lets do our plan, and let miracle happens by doing.
Selamat malam. Selamat tidur. Rangkailah mimpimu. Semoga esok pagi kita bisa bersegera melakukan sesuatu untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Good night ^.^  

                                                             Kalasan, 3 Oktober 2012
                                                                   Fajar sodiq irawan

No comments: