Just wanna be a better man

But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. –Quran (2:216)--

Mungkin memang sifat dasar manusia (terutama laki-laki) untuk terburu-buru. Konon ketika moyang kita, adam, diciptakan dari tanah dan kemudian ditiupkan roh, ketika roh yang ditiupkan baru sampai di dada, adam sudah ingin terburu-buru melangkah. Padahal kakinya masih keras membatu. 

Seringkali dalam hidup, sifat terburu-buru ini juga nampak dalam aktivitas sehari-hari kita. Pada waktu pagi saat pergi ke kampus, misalnya. Karena takut terlambat dan sudah mepet jam masuk kuliah, kendaraanpun digeber sekencang-kencangnya, padahal jalanan pagi sangat padat. Begitu pula sewaktu harus segera menyelesaikan tugas yang ternyata sudah sangat mepet dengan deadline. Persoalan kualitas itu urusan nanti, speed lebih utama.  

Pernahkah kita alami ketika kita berdoa untuk meminta sesuatu pada Allah, seringkali tak sabar rasanya berharap doa itu akan segera terkabul? Setelah berdoa kita sangat berharap apa yang kita minta langsung datang seketika itu juga dalam waktu yang tidak lama. Ketika doa yang kita panjatkan tidak kunjung mendapat jawaban, terlintas pikiran bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa kita, padahal Allah akan selalu memberi apa yang diminta hamba-Nya. 

Allah maha baik, paling tahu keadaan hamba-Nya. Padahal boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui --Quran (2:216) --

Apa yang kita minta, apa yang kita doakan, tidaklah selalu yang terbaik. Menurut kita mungkin yang kita minta adalah yang terbaik, padahal sebenarnya ada sesuatu yang lebih baik telah dipersiapkan Allah untuk kita nanti pada saatnya. Allah mengetahui, sedangkan pengetahuan kita sangat sangat terbatas. 

Mungkin seharusnya kita memantaskan diri untuk mendapatkan yang terbaik yang telah disediakan Allah untuk kita. Hanya sang juaralah yang mendapatkan piala, bukan? Sudah pantaskah kita menerima piala?  Allah telah menetapkan segala sesuatunya untuk kita dan tidak akan pernah tertukar. "Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat --Quran (43:27)-- 

Marilah kita siapkan diri kita untuk menjemput  yang terbaik yang sudah disediakan Allah. A good believer obeys Allah, follows the footsteps of the prophet, respects others and humble. Bismillah, semoga Allah memantaskan...

Allaahumma, in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, faqdurhu lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiih. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, fashrifhu ‘annii, washrifnii ‘anhu, waqdur liyal khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinnii bih

No comments: