Obat Galau

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan membaca, kamu akan mengenal dunia. Dengan menulis, kamu akan dikenal dunia (sms seseorang)

Entah sudah berapa lembar buku yang sudah kubaca sejak akhir bulan lalu sampai saat ini. Terakhir buku eric weiner, the geography of bliss saja sudah 600an halaman lebih. Belum lagi tumpukan buku-buku bahan menulis tesis. Baru melihatnya saja sudah membuat dahi berkerut. Bagaimana tidak? Dari tebalnya saja sudah terbayang berapa kilo beratnya. Dan lebih berat lagi ketika mulai membaca halaman demi halaman. Mual-mual. Seperti berton-ton besi bekas gerbong kereta ekonomi yang kabarnya tidak akan digunakan lagi berada tepat di atas ubun-ubunku. Tinggal dilepas dari ketinggian 100 meter dan...prankkk.... menggencet otakku. Sakit luar biasa pasti.. Meski mungkin tak ada apa-apanya dibanding derita ribuan orang yang menggantungkan hidup dari kereta ekonomi. (ngomong apa sih? Ngelantur aja..bangun oyyyy).

Hufftt....Tambah lagi terjemahan bahasa indonesia buku-buku itu membuatku kriting tujuh keliling., Seringkali alih bahasa menjadi masalah ketika terjemahan yang dilakukan tidak pas dengan sturktur kata bahasa indonesia yang baik dan benar menurut ejaan yang disempurnakan. Hehe. Apalagi bahasa inggris kan terkenal bahasa yang aneh..semua dibolak-balik. Tangan kanan kok bahasa inggrisnya jadi right hand? Padahal kalau dierjemahkan literal, tangan = hand, kanan = right. Jadi tangan kanan = hand right. Belum lagi di tulisan jelas-jelas ditulis “one” kok dibaca “wan”? Dimana letak konsistensi bahasa inggris ini, coba??hmmm.. (Ahh...tuh....ngelantur lagi...back to topik, om...)

Hmmm...dengan membaca, kamu akan mengenal dunia. Ungkapan bagus nan masuk akal. Berati kalau aku membaca, maka aku akan mengenal dunia, begitu kira-kira kalau diungkapkan dengan kata lain. Tetapi yang kurasakan kok malah sebaliknya, ya? Semakin banyak membaca, rasanya semakin aku tidak mengenal dunia. Yang kurasakan malah makin bingung dengan keadaan dunia yang serba berantakan. Makin banyak membaca makin aku yakin bahwa aku semakin bingung. Bagaimana logikanya? Ahh..barangkali benar juga ungkapan bahwa untuk bisa paham, dimulai dari bingung dulu. lagipula masalah rasa kok dilogika, jelas ga nyambung! Wong makin dirasa-rasa biasanya makin ga logis, dan makin dilogika rasa-rasanya makin ga jelas. hehehe..anda bingung?saya juga.

Entah sudah berapa lembar halaman pula tulisan yang sudah kuketik. Hmm...sebentar.. kukira-kira dulu. Ada laporan kegiatan, review modul, edisi perdana buletin, dan tentu saja ( yang paling membebani sampai saat ini ) tesis. Andaikan dikumpulkan jumlah lembaran halamannya, mungkin semuanya (thesis excluded) sudah lebih dari 35.000 kata. Sama tebal dengan standar sebuah tesis. Meski nanti dosen akan berkata : “buat laporan perjalanan atau tesis, mas? Analisisnya mana? Kayak wartawan aja. Udah, nanti kamu tak kasih sertifikat lulus kursus jurnalistik aja. Ngapain susah-sudah kuliah di sini..”. hadeehh..kata-kata yang menusuk ke ulu hati. Sampai tembus punggung, bahkan. Tajam amat pak komentarmu? :D. (Ow ow ow..ngelantur lagi...back to topik).

Banyak tulisan yang harus kuselesaikan. Dan semuanya mengikat. Padahal inspirasi itu seperti kentut : tak selalu datang ketika sangat diinginkan..dan bahkan lebih memalukan lagi kadang datang pada saat dan situasi yang tak tepat..(.stop stop..sudah melenceng dari konteks topik yang dibicarakan :D).

Rasa mual yang sama dengan kebanyakan membacapun datang dengan tiba-tiba, bak gerombolan bersenjata penyerbu lapas yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Sudah kukorek-korek sampai dasar otak, tak juga menemukan kata yang tepat untuk ditulis. Sudah kulihat-lihat reklame di sepanjang jalan raden ronggo, tak juga menemukan kata yang inspirable juga. Menggalau pula lah ujung-ujungnya.

Galau tak sekadar galau. Galau kali ini membuatku ingin melakukan hal aneh-aneh : Jalan-jalan ga jelas di jalan raden ronggo yang penuh dengan truk pasir (tapi takut ketabrak..truknya kalau jalan ga duga-duga..gas pol rem pol—ya ga jalan kalau di rem pol..xixi), makan sepuasnya di angkringan mas budi (lihat perutku yang makin membuncit, selera makan sebaiknya kubunuh, sebelum berbalik selera makan berlebih pelan-pelan membunuhku), ngobrol ngalor ngidul sama pak satpan penjaga pos (hadehh..paling juga ujung-ujungnya ledek-ledekan...bicara yang baik atau diam,deh). Hmmm...mungkin yang kulakukan sekarang ini adalah alternatif paling bagus, atau minimal paling sedikit mudharatnya : menulis kegalauan di blog.

Sebentar kuhidupkan laptop. Ke depan rumah cari akses wifi gratis, dan aha!! Blog ku ketemu...tulisannya masih ada... tapi ternyata tulisan tahun lalu.(hadehhh.. ketinggalan jaman setahun, nih). Akupun masuk kamar..kusambar buku sekenanya, kujadikan alas supaya laptop tidak panas, karena aku mengetik di atas kasur. Dengan menuliskan ini, aku masih bertanya-tanya :”apakah betul kalau dengan menulis kamu akan dikenal dunia?” hmm..setelah kupikir sebentar, benar juga sih..dengan menulis, kemudian mempublikasikannya, orang akan tahu tulisan kita. Dengan begitu kita akan dikenal oleh dunia. Persoalanya adalah kita akan dikenal sebagai apa oleh dunia? Orang galau atau orang gila? (Ah..itu bedanya sedikit..hehehe)

Sejenak setelah tulisan ini akan kuakhiri, kugeser sebentar laptopku. Haduh..baru kusadari..ternyata buku yang kujadikan alas judulnya : inna ma’al ‘usri yusran, bersama kesulitan ada banyak kemudahan...astaghfirullah..ternyata obat galauku malam ini hanya berjarak satu ruas jempol dari tanganku. Masha Allah...banyak untaian hikmah dari Syekh Muhammad Abdul Athi Buhairi, sang empu pengarang bukunya. Malam ini batal menggalau ria, deh..hehehe


Ditulis pada malam jumat yang sunyi di kalasan..suasana sebenarnya mendukung untuk mengalau ria..membuka bukunya sang syaikh, judul bab pertama : Al Quran melarang kita bersedih...Masha Allah.. semanjur-manjur obat memang Kitabullah...Al Qur’anul karim. Bismillah....iqra’ bismirabbikalladzii kholaq

2 comments:

erlin dwi said...

Mas Assalamualaikum we.wb apa kabar

erlin dwi said...

Mas Assalamualaikum we.wb apa kabar