Malam ahad

Malam ahad yang lalu Alhamdulillah ada kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik remaja di kampung tetangga. Setiap malam ahad, secara rutin mereka berkumpul, bersilaturrahim dari rumah ke rumah dan bersama-sama mengaji. Masha Allah..adik-adik remaja ini sungguh luar biasa... Malam ahad yang biasanya dijadikan malam "bebas" para remaja, mereka gunakan untuk berkumpul, bersilaturahim dan mengkaji ilmu. Dan yang lebih luar biasa menurutku adalah pendamping mereka, sepasang suami istri yang sangat istiqomah dan sabar. Semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan pada mereka semua.. 

Masih lekat di ingatan ketika aku melemparkan wacana mengenai syukur. Adik-adik kuminta untuk menyebutkan dan menghitung nikmat yang telah diberikan pada hari itu. Dan hasilnya, mereka hampir tak bisa menghitungnya. Tak bisa menghitung bukan karena terlalu banyak, namun karena mereka bingung nikmat apa sajakah yang telah mereka dapat..Astaghfirullah.. Dari hampir 50 orang, yang bisa menyebutkan nikmat paling banyak ada 21 nikmat. Sedangkan sebagian besar hanya berhasil mengidentifikasi sekitar 10 nikmat. Subhanallah.. padahal kalau mau merenung dan memikirkan, butiran pasirpun tak cukup untuk menghitung nikmat Allah. Lautan sebagai tinta untuk menuliskannya pun tak cukup untuk menuliskan betapa banyak nikmat yang diberikan Allah pada seorang manusia. 

Seringkali nikmat akan begitu terasa ketika nikmat itu sudah hilang dari kita. Nikmat sehat misalnya, akan sangat terasa ketika seseorang dalam keadaan sakit.. Nikmat makan, akan sangat terasa ketika seseorang dalam keadaan lapar..Nikmat harta, akan sangat terasa ketika seseorang dalam keadaan fakir. Lahir, hidup, tumbuh dan berkembang, semua adalah nikmat Allah. Bahkan setiap apa yang ada, semua adalah pemberian Allah..bukankah kita lahir tidak membawa apa-apa? fabiayyi ala i rabbikuma tukaddziban..

Tidakkah kita bersyukur? akankah kita akan seperti fir'aun yang karena diberikan kuasa kemudian menyombongkan dirinya? akankah kita akan seperti qarun yang karena diberi harta kemudian menganggap semua adalah miliknya? 
Wa laa yasykur fainna yasykuru linafsih.. wa mankafara innallaha ghaniyyun hamiid. 
Orang yang berfikir tentu akan selalu bersyukur. Apapun bentuk syukur pasti akan kembali memberi manfaat kepada diri sendiri. Mensyukuri nikmat sehat misalnya, ketika tubuh yang sehat dilakukan untuk berbuat baik kepada orang lain seperti yang Allah ajarkan, pasti orang lain akan membalas kebaikan itu dengan kebaikan pula, bahkan yang lebih baik. 

Hal lain yang menarik dari diskusi dengan adik-adik adalah ketika membahas tentang menomorsatukan Allah di atas segalanya. Ketika kulemparkan wacana tentang cinta kepada Allah untuk kita letakkan di atas segalanya, kulihat ekspresi yang "berat" di raut wajah adik-adik. Hmm..remaja memang identik dengan cinta, dan sepertinya makna cinta bagi mereka masih dalam tataran sesama makhluk. Manusiawi memang, namun manusia sesungguhnya adalah yang mengabdikan diri sepenuhnya pada Tuhannya. Cinta pada Allah bukan berarti kemudian tidak cinta pada yang lain. Cinta bukanlah zero-sum game. Cinta pada Allah justru akan mengantarkan kita pada cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada Allah berarti cinta kepada orang tua, karena Allah memerintahkan kita untuk mencintai orang tua. Cinta kepada Allah berarti cinta pada sesama manusia, karena Allah memerintahkan kita untuk saling mencintai antar sesama manusia. Cinta kepada Allah berarti cinta pada semesta, karena Allah memerintahkan kita untuk mencintai alam semesta. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta pada-Nya.

Musuh yang paling berat bukanlah musuh yang paling kuat. Musuh yang paling berat adalah ego diri sendiri. Ego diri sendirilah sebenarnya halangan terbesar untuk cinta yang sebenar-benarnya. Ketika cinta dibajak oleh diri sendiri, maka nafsulah yang muncul. 

Mengalahkan diri sendiri, mungkin itulah yang membuat "berat" untuk adik-adik. Ketika diri sendiri ditempatkan lebih tinggi dari Allah, maka kita tidak akan pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Bagaimana supaya cinta pada Allah lebih tinggi dari cinta pada diri sendiri? Disiplin latihan, itulah jawabannya. Latihan yang kuterapkan adalah sholat subuh berjamaah. Ketika subuh, Allah selalu memanggil manusia dan memberi tanda pada manusia : Assholatu khoirum minan naum. Prayer is better than sleep. Sholat lebih baik daripada tidur. Manakah yang akan kamu dahulukan? panggilan Allah ataukah memanjakan nafsu diri dengan tidurmu?

Sungguh Allah memberikan petunjuk dan sekaligus caranya kepada kita setiap hari untuk memprioritaskan cinta kepada-Nya. Tinggal kita sendirilah yang mau mengikutinya atau mengabaikannya. What's your choice?

No comments: