Quo vadis my thesis?

Sudah berhari-hari bahan berserak meja : buku-buku, jurnal-jurnal, fotokopian, note interview. Semua bahan sudah tersedia di depan mata, namun tak juga membuat tangan tergerak untuk menuliskannya.

Sudah berminggu-minggu lalu wawancara dilakukan. Dokumen, catatan dan data sekunder sudah dikumpulkan, namun tak juga membuat analisis segera dikerjakan.

Sudah berbulan-bulan proposal di acc. Proposal bukanlah harga mati, proposal adalah useful guidance. Turun ke lapangan mengambil data sudah dilakukan, namun tak juga membuat konsep-konsep yang mengawang menemukan tempatnya dalam tulisan.

Sibuk dengan pekerjaan kantor, ada pekerjaan lain yang lebih penting dan mendesak, tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan, sudah capek berpikir sepulang kerja, huffttt...sederet alasan kubuat-buat sendiri untuk menenang-nenangkan diri. Sepertinya aku telah menyuntikkan terlalu banyak "pikiran narkoba" pada diriku sendiri. Terlihat menenangkan, menyelesaikan masalah. Namun yang terjadi sebenarnya hanyalah pelarian dari masalah. Makin banyak berlari, makin menguras tenaga. Pikiran terkuras, beban masalah masih tetap ada. 

inspiration to make action or action to make inspiration? Seringkali kita, termasuk saya menunggu inspirasi sebelum menulis. Bahkan untuk mengerjakan tesis ini, sampai saat ini saya masih saja mengkambinghitamkan inspirasi. Mengapa inspirasi tidak segera datang sehingga saya tidak segera menulis? Hmm..i know that's totally wrong. Tapi inilah salah satu "pikiran narkoba" yang sering kusuntikkan pada diriku. 

The door will open if only we knock, the way will appear if only we start to walk. Ini sebenarnya adalah cara saya mencuci otak, mengubah pandangan, menghentikan kebiasaan menyuntikkan "pikiran narkoba" kepada diri saya sendiri. Dengan berdialog pada diri sendiri, mengalahkan sesat logika menggunakan hukum-hukum alam (ayat kauniyah), biasanya manjur untuk self healing. Bukankah ketika bertamu pintu akan dibuka kalau kita mengetuknya? Bukankah terjalnya jalan dan kelok-keloknya baru akan terlihat ketika kita mulai berjalan? hmmm..that's why we have to act first and the inspiration comes then. Sudah merupakan sunatullah bahwa bertindak terlebih dahulu kemudian terinspirasi lebih tepat daripada menunggu inspirasi baru bertindak. Kalau hanya menunggu inspirasi, maka pertanyaannya adalah sampai kapan menunggu? dan yang lebih parah lagi adalah bagaimana kalau si inspirasi tidak datang? apakah hidup harus tetap dilanjutkan? hmm..tentunya hidup terus berjalan, bukan?

There's a paradox : You will never experience freedom if you don’t get a sense of what discipline is. Pernahkan kita lihat seorang pianis yang handal? apapun tuts yang disentuhnya mengeluarkan bunyi harmoni yang indah? dia sangat bebas melakukan apa saja dengan pianonya dan yang keluar adalah keindahan. Apakah kebebasan itu dia dapat dengan sendirinya? tidak, pasti di balik itu ada latihan yang disiplin yang dilakukannya. Dengan disiplin latihan, dia menjadi ahli, bebas melakukan apa saja dengan pianonya dan menghasilkan harmoni bunyi yang indah. Dengan disiplin latihan akan muncul kebebasan. 

Disiplin latihan ini juga kupraktekkan untuk mengolah "ego diri" melalui shalat subuh. Saat sholat subuh, Allah selalu memanggil : Assholatu khoirum minan naum. Prayer is better than sleep. Disiplin bangun, mengalahkan ego tubuh dan mendahulukan panggilan Allah inilah yang selalu kulakukan di setiap pagi. Sami'na wa atho'na

Mungkin untuk menyelesaikan tesis ini, rumus disiplin ini juga berlaku. Mungkin mulai saat ini saya harus menyediakan waktu khusus untuk berhadapan dengan bahan-bahan tesis. Entah sedang terinspirasi atau tidak, saya harus disiplin untuk mencoba mengerjakannya. sejadi-jadinya. Mungkin seperti inilah memang cara untuk mencapai kebebasan akademik dari penjara jurusan yang terkenal susah meluluskan mahasiswanya ini. hehe

Bismillah..Iqra bismirabbik..with Him i can...

No comments: