Am i narcissus?

Sudah tahukah anda mengenai legenda narcissus? Seorang pemuda yang setiap hari berlutut di tepi danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona dengan dirinya, berulang kali dia berusaha mencium dan memeluk bayangan dirinya di pantulan permukaan danau sehingga suatu hari dia jatuh, tenggelam dan mati. Di tempat jatuhnya itulah kemudian tumbuh sekuntum bunga yang dinamakan narcissus.

Semua merindukan keindahan narcissus, terutama peri echo yang cintanya pada narcissus “bertepuk sebelah tangan”. Namun ada yang kehilangan dan rindunya lebih dalam daripada peri echo.

Dikisahkan bahwa setelah kejadian tenggelamnya narcissus, danau yang semula airnya segar berubah menjadi mataair yang asin.

“mengapa engkau berubah menjadi asin?” tanya para peri hutan pada danau

“aku menangisi narcissus”, jawab danau

“oh, tak heran bila engkau menangisi narcissus” kata peri, “ sebab walau aku selalu mencarinya di dalam hutan, hanya engkau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat”

“tapi..indahkah narcissus?” tanya danau

“siapakah yang lebih mengetahui daripada engkau?” sang peri bertanya keheranan, “didekatmulah dia setiap hari berlutut mengagumi dirinya”

Sang danau terdiam sejenak, kemudian berkata :
“aku menangisi narcissus, tak pernah kuperhatikan bahwa narcissus itu indah. Aku menangis karena setiap dia berlutut di tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan dari keindahan diriku”

Huffftt..kisah yang memikat.

Kisah ini pertama kali kubaca di buku sang alkemis, karya paulo coelho, buku yang sarat dengan muatan tradisi mistis kristen kuno dan tradisi mistis islam kuno. Satu dari sekian buku yang mengubah cara pandangku tentang kehidupan.

Kisah narcissus ini sungguh mirip dengan apa yang saat ini kurasakan. Betapa aku melihat banyak keindahan pada diri orang-orang, yang setelah kurenung-renungkan keindahan itu adalah pantulan dari keindahanku sendiri.hehehe. narcissus bener, kan?

Aku tidak tahu saat itu berada dalam posisi narcissus, peri echo ataukah sang danau. Namun yang kutahu masing-masing memiliki kisah dan keindahan yang terefleksi dari interaksi diantara mereka. Narcissus tidak akan bisa merasakan keindahannya bila dia tidak bertemu danau, begitu pula peri echo dan danau sendiri.

Dalam hidupku saat ini kurasakan keindahan dari masing-masing orang yang kutemui di keanggunan penampilan mereka, kesantunan perilaku mereka, dan ketulusan perbuatan mereka. Semua yang kulihat hanyalah keindahan yang terpancar dari pribadi-pribadi istimewa.

Apakah sebenarnya memang demikian adanya? Hmm..mungkin aku yang terlalu pede memakai kacamata positif di setiap kitaran pandanganku. First i always have a positive feeling about people, till prove the upside down. Aku selalu berusaha berpikir positif terhadap semua orang, meskipun dia baru kukenal, setengah kenal atau sudah kenal. Yang kutahu setiap orang adalah baik. Yang buruk adalah “setan” di dalam hati mereka. I trust everyone but not the devil inside (quote of italian job..hehe).

Bismillah..i pray to have eyes that see best in people, a heart that forgive the worst, a mind that forget the bad and soul that never loses faith in God.

Aku sadar bahwa tak ada seorangpun manusia yang sempurna. Semua orang memiliki kekurangan dan “aib”nya. Namun Allah menutup semua kekurangan dan “aib” itu dari pandangan manusia dan menjadikan keindahan merekalah yang tampak, So am i.

Ya Allah, Ya muhaimin..lindungilah kami dari “aib-aib” kami. Engkaulah yang menutup “aib-aib” kami sehingga kami terlihat baik di mata manusia. Andaikan Engkau buka “aib-aib” kami, tentulah tak akan ada seorang manusiapun yang mau melihat dan mendekat pada kami. Ya Rabb, lindungilah kami dari segala macam aib, keburukan dan kejahatan sehingga kami kembali kepada-Mu dengan keadaan baik, indah dan suci seperti yang Engkau kehendaki. Aamiin.

13 ramadhan 1434 H di kalasan sambil menunggu ifthar

No comments: