Tetanggamu adalah keluargamu

Bismillahirrahmanirrahim
Kartasura, 7 juli 2013 ba’da isya di rumah
Di rumah ada tamu. Budhe dan teman ngaji ibu. Tujuannya sebenarnya ke rumah tetangga di belakang  rumah, namun karena acara belum mulai, mereka mampir ke rumahku. Zam-zam nya mana? Kata-kata itu terngiang di telingaku. Alhamdulillah kemarin diberikan kesempatan untuk mengunjungi baitullah, jadi setiap tamu yang ke rumah sangat wajar apabila mengharap oleh-oleh khas dari sana, especially air zam-zam yang dipercaya penuh barakah.

Kemarin sewaktu pulang ke rumah memang sangat terburu. Ba’da sholat jumat yang “kilat” di masjid belakang kantor, aku langsung menyambar sesuatu sekenanya untuk menghadiri upacara pemakaman budhe mali, tetangga belakang rumah (karena seperti keluarga sendiri, kupanggil budhe, seperti yang diajarkan ibukku). Sebenarnya memang tidak ada hubungan darah keluarga, namun karena saking dekat rumahnya, lama bergaulnya dan ketiga keluarga berdekatan rumah ini selalu bersama, kami bagaikan keluarga kandung sendiri. Jadi kalau tidak bisa dapat upacara pemakaman budhe mali, di jalan aku bergumam pada diriku sendiri : aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri bila tidak sempat menemui beliau sebelum dikuburkan. Kupacu motor dengan kecepatan maksimal. Jalanan jogja-solo yang baru selesai diperbaiki memang menghadirkan kejutan. Banyak lubang yang dahulu kuhapal bener, sekarang sudah berpindah. Aku harus full konsentrasi, full speed sambil menghindari rajau darat.

Sampai masuk di kampung, mobil-mobil berjajar. Motor-motor diparkir di sela-selanya. Orang-orang memenuhi serambi rumah-rumah tetangga. Sampai di sana, langsung kuparkir motorku sekenanya, jalan ke depan rumahku (upacaranya diadakan di depan rumahku). Di jalan kutemui ibukku, ibukku nangis sejadinya sambil memelukku. Langsung kuminta ijin untuk menemui keluarga budhe mali. Kupeluk dan kuucapkan bela sungkawa kepada semua anggota keluarganya. Semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan untuk keluarga, serta diberikan tempat terbaik untuk budhe mali di alam berikutnya. Hufftt..haru sangat terasa di hati ketika melihat peti jenazah yang disemayamkan di rumah duka. Kutanyakan untuk sholat jenazah, ternyata nanti disholatkan dulu di masjid. Kuikuti prosesinya. Aku ikut memikul jenazahnya, ikut menyolatkan di masjid, mengantarnya ke kubur dan menunggui kuburnya sampai keluarga terakhir pulang. they’re like my own family

Hari-hari berikutnya sepertinya kubayangkan mungkin akan begitu berat bagi keluarga ini. Sehari-hari yang kutahu budhe mali ini mengurus semua urusan rumah tangganya. Malamnya, diadakan kegiatan yasinan di rumah duka. Dahulu, aku sangat anti yasinan. Kuingat-ingat, dahulu aku adalah salah satu penentang keras dan bertekat tidak akan yasinan lagi. Huff..itu dahulu, ketika menuntut ilmu begitu semangat dan menggebu tanpa disertai kerendahan hati. Bismillah, sekarang, sudut pandangku tentang yasinan berubah. Kalau dahulu yasinan adalah bid’ah yang tak pernah diajarkan Rasulullah sehingga yang melakukannya dosa, dan sebagainya, maka sekarang aku merasakan bahwa yasinan lebih dari sekadar membaca berkumpul dan membaca surat yasin. Aku mencoba merasakan betapa kehilangannya keluarga yang ditinggalkan, betapa every moment they remembering there’s a memory about yang meninggal. Hufff..laa haula wa laa quwwata illa billah.. benar-benar mengharukan.

Saat datang ke rumah duka yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumahku, pak mali sudah menyambut dan membisikkan padaku kalau tidak ada yang memimpin doa, aku diminta bantuan untuk memimpin. Insya Allah, jawabku. Aku masuk ke rumahnya yang digelari tikar. Bersalaman dengan keluarga yang ditinggalkan dan beberapa orang yang sudah hadir. Dan diantara yang hadir, ada yang lebih senior dari aku, sehingga kemudian sewaktu akan memulai, kupersilahkan si bapak untuk memulai.

Setelah selesai dan banyak orang pamit,aku sengaja masih stay dan ikut bersih-bersih. Ketika akan pulang, aku dan salah seorang tamu diajak cerita oleh pak mali betapa kehilangannya keluarga dan betapa sulitnya mencoba untuk mengikhlaskan. Selalu saja terbayang kebaikan pasangan sewaktu lamunan datang, katanya. Betapa teringat banyak memory bersama beliau. Betapa hidup yang dijalani bertahun-tahun bersama juga meninggalkan banyak kenangan. Namun beliau sadar semua harus diikhlaskan. Semua orang akan mati, dan budhe mali sudah mendahului. Inilah salah satu hikmah takyizah, keluarga yang ditinggalkan ternyata sangat butuh teman bercerita.

Yasinanpun dilakukan selama tiga hari sesuai permintaan tuan rumah. Mengingat yasinan selain untuk mendoakan, menghibur, menyiarkan rumah duka dengan bacaan quran juga untuk belajar orang-orang yang belum bisa baca quran dengan lancar. Selama tiga hari itu pula aku ikut yasinan. Tiga hari itu pula kalau siang, rumahku ramai dengan tamu dan keluarga yang bersilaturrahim menjelang ramadhan dan ada juga yang datang karena mendengar aku pulang umrah. Alhamdulillah..sibuk, capek tapi ceria karena banyak orang yang datang. Sayangnya hampir semua oleh-oleh, termasuk air zam-zam yang diidamkan tertinggal di jogja. Jadilah revisi thesis, rencana tulisan perjalanan umrah dan urusan-urusan lain tertunda, karena kesibukan di rumah ternyata tidak kalah dengan kesibukan di kantor. Bahkan tidak mesti jam 9 malam sudah selesai. Alhamdulillah ‘ala kulli hal...

Rasulullah memberikan teladan dengan mengharuskan menjaga hak tetangga, menjaga kehormatan dan kemuliaannya serta menutupi aib mereka, bahkan salah seorang sahabat bahkan mengira bahwa tetangga juga akan mendapatkan hak waris juga saking pentingnya tetangga dalam kehidupan muslim...

No comments: